
1.Batagor
Harga:Rp 15.000
Batagor (bakso tahu goreng) lahir dari pengaruh kuliner Tionghoa yang terdiri dari tahu dan siomay isi ikan tenggiri yang digoreng renyah lalu disiram saus kacang.
Makanan khas Jawa Barat ini mulai muncul pada 1968, saat seorang penjual di Bandung bernama Isan mencoba menggoreng sisa dagangan siomay kukusnya agar tidak terbuang.
Tanpa disangka, resep baru tersebut banyak digemari banyak orang, hingga akhirnya batagor lebih laris dibandingkan dagangan awalnya.
2. Nasi Timbel

Harga:Rp 22.000
Meski mirip dengan nasi liwet, nasi timbel sendiri identik dengan nasi putih hangat yang disajikan dalam balutan daun pisang. Kuliner khas Bandung ini biasa dinikmati bersama lauk, seperti ayam, tahu, tempe, dan sambal.
Dahulu, makanan ini lebih sering dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah karena piring belum mudah didapat sehingga daun pisang dimanfaatkan sebagai alas makan.
Selain itu, nasi timbel kerap dijadikan bekal oleh orang Sunda saat bepergian jauh karena dianggap praktis dan tahan lama.
3. Soto Bandung

Harga:Rp 30.000
Keunikan soto Bandung terdapat pada kuah bening berisi daging has dalam, lobak, serta kacang kedelai goreng dan ditambah perasan jeruk nipis dan taburan bawang goreng.
Soto Bandung berasal dari pengaruh kuliner Tiongkok yang masuk ke Indonesia sejak abad ke-19. Masakan ini dibawa oleh pedagang asal Cina yang menetap dan berbaur dengan budaya lokal.
4. Sate Maranggi

Harga:Rp 35.000
Sate Maranggi dikenal sebagai makanan tradisional Jawa Barat yang banyak ditemukan di Kabupaten Purwakarta. Istilah “maranggi” dalam bahasa Sunda sebenarnya merujuk pada pekerjaan tukang pembuat sarung keris.
Namun, ada juga sumber yang menyebut kata itu berasal dari nama panggilan Mak Anggi, penjual sate asal Jawa Tengah yang mulai berjualan di daerah Cianting sekitar tahun 1960-an.
Nama "Maranggi" disebut-sebut muncul dari cara masyarakat menyebut tempat Mak Anggi berjualan, lalu ditambah huruf “R” agar lebih mudah diucapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar